Jember (omahberita.com) - Sutradara Hanung Bramantyo mengajak generasi muda untuk tidak menerima satu versi kebenaran dalam memahami sejarah, khususnya tragedi 30 September 1965. Pesan tersebut disampaikan Hanung saat roadshow film terbarunya, Lobang Buaya, di Jember, Minggu (20/9/2026).
Menurut Hanung, peristiwa 1965 merupakan salah satu tragedi nasional yang hingga kini memiliki banyak lapisan narasi. Karena itu, sejarah dinilai tidak cukup dipahami hanya melalui satu sudut pandang. Ia menilai literasi dan sikap kritis diperlukan agar masyarakat dapat melihat sebuah peristiwa secara lebih utuh. Menurutnya, generasi muda perlu didorong untuk mencari dan membandingkan informasi dari berbagai sumber.
Pesan tersebut kemudian disampaikan Hanung melalui film Lobang Buaya. Ia mengatakan film sejarah selama ini cenderung memiliki jumlah penonton lebih sedikit dibandingkan film horor. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Hanung menggunakan medium film untuk mendekatkan tema sejarah kepada generasi muda. Melalui film, ia berharap tragedi 1965 tetap diingat dan dapat dipelajari secara lebih kritis.
Hanung juga menjelaskan bahwa Lobang Buaya tidak hanya membicarakan peristiwa 1965. Film tersebut turut mengaitkannya dengan persoalan sosial yang masih terjadi hingga saat ini. Salah satunya digambarkan melalui konsep “tujuh setan desa”. Hanung menyebut gambaran tersebut mencakup korporasi, kapitalis birokrat, bandit desa hingga rentenir.
Hanung mengatakan dirinya sejak awal berkarya memang konsisten mengangkat persoalan sosial, keagamaan, dan politik melalui film. Ia menyebut Tanda Tanya dan Perempuan Berkalung Sorban sebagai beberapa karya sebelumnya yang juga mengangkat isu sosial dan sempat menuai kontroversi.
Melalui Lobang Buaya yang akan diputar mulai 1 Oktober mendatang, Hanung berharap penonton tidak hanya menikmati cerita dan kejutan dalam film. Ia juga ingin penonton terdorong mencari informasi dari berbagai sumber sehingga sejarah dapat dipelajari secara kritis, bukan sekadar diterima sebagai kebenaran tunggal.
as a preferred source on Google
0 Komentar