BREAKING NEWS
...
Omah Berita Logo

Gegara Desil DTSEN, 25 Mahasiswa UTM Gagal Dapat Bantuan Pendidikan

Universitas Trunojoyo Madura, Doc: Kompas.com
Universitas Trunojoyo Madura, Doc: Kompas.com

BANGKALAN, Omahberita.com – Sebanyak 25 mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) gagal mendapatkan bantuan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Kondisi tersebut terjadi setelah data desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) menunjukkan mereka berada pada tingkat 6 hingga 10. Ketua Ikatan Mahasiswa Bidik Misi UTM, Dirga, mengatakan jumlah tersebut masih dapat berubah karena pendataan terhadap mahasiswa masih dilakukan. Mayoritas mahasiswa yang terdampak merupakan mahasiswa baru.

"Data tersebut belum final karena kami masih terus melakukan pendataan kepada mahasiswa," ujar Dirga, Rabu (23/9/2026) dilansir dalam Kompas.com.

Menurut Dirga, hasil pendataan di lapangan menunjukkan kondisi ekonomi mahasiswa tidak sesuai dengan tingkat desil yang tercatat dalam DTSEN. Sejumlah mahasiswa yang dinilai seharusnya berada di bawah desil 6 justru tercatat dalam desil 6 hingga 10. Akibat tidak mendapatkan KIP-K, mahasiswa tersebut harus menanggung sendiri biaya kuliah dan kebutuhan hidup selama menjalani pendidikan.

Dirga juga belum dapat memastikan apakah kondisi tersebut telah menyebabkan mahasiswa berhenti kuliah. Sebab, terdapat beberapa mahasiswa yang sudah tidak dapat dihubungi sehingga penyebab mereka berhenti kuliah belum diketahui. Sementara itu, Wakil Rektor III UTM Surokim turut menyoroti persoalan akurasi data DTSEN yang berdampak pada penentuan desil masyarakat.

"Sejauh ini DTSEN masih ditemukan banyak yang tidak akurat. Akibatnya, banyak hak warga miskin yang mulai terabaikan dan menimbulkan keresahan di tingkat bawah," ujar Surokim

Ia mengatakan terdapat masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah yang justru mendapatkan desil tinggi. Sebaliknya, masyarakat dengan kondisi ekonomi lebih baik dapat tercatat dalam desil rendah. Menurut Surokim, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan dalam proses penentuan desil. Ia menilai DTSEN tidak seharusnya menjadi satu-satunya acuan dalam menentukan penerima bantuan.

"Ini tidak hanya berdampak pada bantuan sosial untuk masyarakat namun juga berpengaruh pada beasiswa pendidikan seperti beasiswa KIP," katanya.

Surokim berharap pemerintah segera melakukan perbaikan data agar bantuan dapat diterima masyarakat yang benar-benar membutuhkan, termasuk mahasiswa dengan kondisi ekonomi kurang mampu. Ia juga menyebut sejumlah mahasiswa mengeluhkan kondisi tersebut hingga menangis karena tidak memenuhi kriteria sebagai calon penerima KIP-K.

"Mereka banyak yang menangis karena tidak eligible sebagai calon penerima beasiswa KIP-K," pungkasnya dilansir dalam Kompas.com.

Add as a preferred source on Google
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

0 Komentar

1500 karakter tersisa
Belum ada Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini