Jakarta (Omahberita.com) – Pemerintah mulai menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak atau storage nasional untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyebut studi kelayakan proyek tersebut telah rampung.
Bahlil mengatakan, pemerintah akan mulai memeriksa sejumlah calon lokasi pada akhir 2026. Pemeriksaan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan, termasuk potensi risiko gempa bumi.
“FS-nya sudah selesai. Di akhir tahun ini akan memulai untuk kita mengecek lokasinya dari sisi keamanan, baik dalam konteks gempanya maupun keamanan lokalnya,” ujar Bahlil seusai menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurut Bahlil, penentuan lokasi menjadi salah satu tahapan penting agar fasilitas penyimpanan minyak tidak dibangun di wilayah dengan risiko bencana tinggi.
Pembangunan storage ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional hingga mendekati standar internasional, yakni kebutuhan selama 90 hari atau tiga bulan.
“Standar minimum dunia itu kan di tiga bulan, 90 hari. Jadi kita akan mendekati ke sana. Minimal kalau tidak sama, minimal mendekati ke sana,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah menjelaskan bahwa fasilitas tersebut disiapkan agar impor minyak mentah dapat langsung masuk ke Indonesia tanpa harus singgah di negara lain. Pembangunannya direncanakan melibatkan badan layanan umum (BLU) bersama sejumlah perusahaan mitra.
Rencana ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pemerintah turut menyiapkan kerja sama dengan sejumlah negara untuk memperoleh kepastian pasokan minyak mentah jangka panjang.
Meski studi kelayakan telah selesai, pemerintah belum mengumumkan jadwal pasti dimulainya pembangunan fisik fasilitas penyimpanan tersebut. Saat ini, proses masih berlanjut pada pemeriksaan dan penentuan lokasi.

as a preferred source on Google
0 Komentar