Omah Berita Logo

Lagi Ngetren, Jasa Joki Baca Buku

Lagi Ngetren, Jasa Joki Baca Buku

Jakarta(omahberita.com),-Anda ingin terlihat seperti kutu buku atau pecinta buku di media sosial? Atau memang butuh membaca buku demi tugas dalam waktu terbatas? Tenang, kini sudah ada jasa joki membaca buku. Jasa ini sama seperti jasa strava (olah raga) atau jasa mengerjakan tugas kuliah.

Di media sosial, muncul layanan joki baca buku yang menawarkan bantuan membaca, membuat anotasi, hingga menyiapkan buku agar terlihat seperti telah dibaca berkali-kali. Jasa tersebut ditawarkan oleh pengguna Threads @inilindri. Layanan tersedia untuk buku berbahasa Indonesia maupun Inggris, baik fiksi maupun nonfiksi, dengan ketebalan antara 100 hingga 800 halaman.

"Open jasa Joki Baca Buku English, Indonesia Fiksi, non fiksi, siap semua genre 100-800 hal. Fee 700k-1,6jt. Jasa udah include 1 pcs crochet bookmark lucu, 1 set sticky note transparan (1 pack uk 75*75, 1 pack stick index page marker). Bisa sekalian difoto-fotoin juga kalau mau buat sosmed, kali aja ada yang minat pake jasaku," " tulis @inilindri.

Unggahan mengenai jasa tersebut kemudian ramai di Threads. Pemilik akun mengaku tidak menduga tawarannya akan mendapatkan respons sebesar itu.

"Ya Allahhh, nggak nyangka rameeee, jangan dihujat plisss. Kalau mau order jasanya boleh DM ya," tulisnya.

Bagaimana jasa joki baca buku ni bekerja?

Munculnya jasa tersebut membuat sejumlah netizen penasaran dengan konsep dan tujuan di balik layanan joki baca buku. Pemilik akun menjelaskan bahwa layanan yang ditawarkannya juga dapat disebut sebagai ghost reader.

Klien bisa mengirimkan buku yang tidak ingin mereka baca sendiri. Penyedia jasa kemudian akan membacanya, memberikan highlight serta penanda di sejumlah bagian, lalu mengembalikan buku tersebut kepada pemiliknya.

"Kakaknya punya buku tapi males bacanya, kirim ke aku nanti aku baca, buat highlight, kasih penanda, pokoknya dibuat sampe terlihat udah dibaca berkali-kali, nanti aku kirim kembali bukunya ke kakak hehehe," tulisnya saat menjawab pertanyaan warganet.

Ketika ditanya mengenai siapa yang menjadi sasaran layanan tersebut, pemilik akun secara terbuka mengatakan jasa itu ditujukan kepada orang yang ingin membangun kesan sebagai pencinta buku di media sosial.

"Target market utamanya untuk orang yang mau terlihat seperti bookworm/bookstagram," jawabnya.

Ternyata, layanan semacam ini bukan pertama kali dijalankannya. Pemilik akun mengaku pernah menawarkan jasa serupa saat masih duduk di bangku SMA, khususnya untuk novel bergenre teenlit dan chicklit.

Ia kemudian mengatakan baru kembali menjalankan layanan tersebut. Menurutnya, angka yang dicantumkan dalam unggahan viral itu juga bukan tarif sebenarnya.

"Aku baru mulai lagi kak, pas SMA pernah in jadul way buat novel (teenlit, chicklit), postingan ini buat narik klien, rate card aslinya enggak segitu," katanya.

Hanya Untuk Pamer atau?

Munculnya jasa joki baca buku memicu beragam tanggapan dari pengguna Threads. Ada yang melihatnya sebagai ide bisnis tidak biasa dengan pasar yang ternyata memang tersedia.

"This is weird... But very interesting business. Aku kira kamu bercanda kak, ternyata beneran ada marketnya. Keren sih," komentar salah seorang pengguna Threads.

Sebagian warganet juga menilai penyedia jasa memperoleh keuntungan ganda karena mendapatkan bayaran sekaligus kesempatan membaca dan memperoleh pengetahuan dari buku milik klien.

Namun, muncul pula pertanyaan mengenai tujuan dan etika penggunaan layanan tersebut, khususnya jika buku yang telah diberi highlight serta berbagai penanda nantinya digunakan untuk menciptakan kesan bahwa pemiliknya telah membaca buku tersebut sendiri.

"Kamu peduli enggak kalau yang pake jasa pura-pura dia sendiri yang baca, dan jadi bisa ngaku-ngaku ke orang lain? Atau memang marketnya orang-orang ini?" tulis seorang pengguna.

Warganet lainnya masih dapat memahami keberadaan jasa tersebut apabila digunakan untuk membantu seseorang memahami atau merangkum sebuah buku. Namun, pertanyaan muncul ketika layanan itu hanya digunakan untuk membuat buku tampak telah dibaca sebelum dipamerkan di media sosial.

Pengguna lain juga mempertanyakan manfaat dari aktivitas membaca jika seluruh proses tersebut justru diserahkan kepada orang lain. Pasalnya, membaca dilakukan untuk mendapatkan informasi, wawasan, dan hiburan secara langsung.

Perdebatan itu kemudian berkembang menjadi diskusi panjang mengenai budaya membaca, citra yang dibangun seseorang di media sosial, hingga peluang bisnis yang lahir dari perilaku pengguna internet.

0 Komentar

1500 karakter tersisa
Belum ada Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement