Jember (Omahberita.com) - Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat kebutuhan air untuk mendinginkan pusat data semakin meningkat. Di balik kecanggihan teknologi tersebut, konsumsi air dalam jumlah besar memunculkan kekhawatiran terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Isu ini menjadi sorotan setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan sementara proyek pusat data berbasis AI milik BDx Data Centers di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, pada 28 September 2026. Mengutip Katadata, proyek bernama AI Campus 2 atau CGK4 tersebut memiliki nilai investasi Rp3,5 triliun dan dirancang memiliki kapasitas hingga 640 megawatt (MW).
Penghentian sementara dilakukan karena dokumen Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) belum rampung. Langkah tersebut juga bertujuan memastikan kebutuhan air bersih masyarakat Purwakarta tidak terganggu oleh tingginya kebutuhan air untuk sistem pendinginan server.
Mengapa Data Center AI Membutuhkan banyak air?
Pusat data atau data center merupakan fasilitas yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data dalam jumlah besar. Fasilitas ini beroperasi selama 24 jam untuk mendukung berbagai layanan digital, termasuk teknologi kecerdasan buatan.
Namun, pengoperasian server membutuhkan daya listrik yang besar dan menghasilkan panas tinggi. Jika tidak didinginkan secara terus-menerus, komponen perangkat keras, terutama unit pemroses grafis atau GPU, berisiko mengalami panas berlebih (overheating).
Salah satu metode pendinginan yang digunakan adalah evaporative cooling atau pendinginan evaporatif. Sistem ini memanfaatkan air untuk menyerap panas. Ketika air menguap, panas ikut dilepaskan sehingga suhu udara atau perangkat yang didinginkan dapat menurun.
Proses penguapan tersebut membuat sebagian air hilang dan harus diganti secara berkala agar sistem pendinginan tetap berfungsi. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan sejumlah pusat data membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.
Selain itu, kebutuhan air juga dipengaruhi oleh desain fasilitas, kondisi iklim, lokasi pembangunan, dan intensitas komputasi. Pemrosesan model AI yang membutuhkan daya komputasi tinggi dapat menghasilkan panas lebih besar dibandingkan pengolahan data konvensional.
Kebutuhan air tidak hanya muncul secara langsung dari sistem pendinginan. Pasokan listrik untuk mengoperasikan pusat data juga dapat menimbulkan jejak penggunaan air karena sejumlah pembangkit listrik membutuhkan air untuk mendukung proses operasionalnya.
Ancaman Kekeringan
Besarnya kebutuhan air untuk pusat data menimbulkan persoalan tersendiri, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan air atau kekeringan musiman. Penggunaan air untuk kebutuhan industri teknologi berpotensi bersaing dengan kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Karena itu, perencanaan pembangunan pusat data perlu memperhitungkan ketersediaan sumber air serta dampaknya terhadap masyarakat sekitar.
Pengambilan air tanah secara berlebihan dan terus-menerus juga berpotensi menurunkan cadangan air tanah atau akuifer lokal. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ketersediaan air pada sumur warga di sekitar fasilitas. Selain itu, air sisa pendinginan yang dibuang kembali ke lingkungan dalam kondisi bersuhu lebih tinggi berpotensi mengganggu ekosistem perairan apabila tidak dikelola dengan baik.
Pada proyek CGK4 di Jatiluhur, kebutuhan air untuk sistem pendinginan direncanakan memanfaatkan alokasi air PDAM Kabupaten Purwakarta sebesar 14 persen dari total kuota terpasang 3.000 liter per detik. Kuota tersebut disebut belum dimanfaatkan secara optimal selama puluhan tahun.
Meski demikian, ketersediaan alokasi air perlu dilihat bersama kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan. Kajian lingkungan menjadi salah satu aspek penting untuk memastikan pemanfaatan air tidak menimbulkan persoalan baru.
Teknologi Pendingin Menjadi Alternatif
Seiring meningkatnya kebutuhan komputasi, pengelola pusat data mulai mengembangkan berbagai teknologi pendinginan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. Salah satunya adalah direct-to-chip liquid cooling, yakni metode yang mengalirkan cairan pendingin langsung ke cip pemroses. Teknologi ini dapat membantu menangani panas dari komponen dengan kepadatan daya tinggi.
Alternatif lainnya adalah liquid immersion cooling. Metode ini dilakukan dengan merendam komponen server dalam cairan dielektrik khusus yang tidak menghantarkan listrik sehingga panas dapat diserap tanpa mengandalkan penguapan air secara terus-menerus.
Penggunaan air daur ulang juga dapat menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap air bersih. Air limbah yang telah diolah dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pendinginan apabila memenuhi persyaratan teknis dan kualitas yang diperlukan.
Selain itu, sistem pendinginan sirkulasi tertutup atau closed-loop system memungkinkan air didinginkan dan digunakan kembali dalam sistem. Pendekatan ini dapat membantu menekan kehilangan air selama proses operasional.
Pemanfaatan udara luar untuk pendinginan juga dapat diterapkan apabila kondisi iklim dan desain fasilitas mendukung. Pemilihan teknologi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan komputasi, kondisi lingkungan, dan efisiensi operasional setiap pusat data.
Pembangunan Data Center Perlu Memperhatikan Dampak Lingkungan
Pembangunan pusat data berbasis AI menjadi bagian dari perkembangan infrastruktur digital di Indonesia. Namun, kebutuhan listrik dan air yang besar membuat aspek lingkungan perlu menjadi pertimbangan sejak tahap perencanaan.
Proyek CGK4 di Jatiluhur merupakan salah satu fasilitas yang dirancang untuk mendukung kebutuhan komputasi AI. Proyek tersebut memiliki potensi kapasitas hingga 640 MW dengan rencana pembangunan enam gedung. Tahap awal berupa gedung berkapasitas 120 MW ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Di tengah perkembangan tersebut, efisiensi penggunaan air, pemilihan sistem pendinginan, serta pemenuhan dokumen perizinan menjadi aspek penting dalam pembangunan pusat data.
Dengan perencanaan yang matang dan penggunaan teknologi yang sesuai, kebutuhan infrastruktur digital diharapkan dapat berkembang tanpa mengabaikan ketersediaan air bersih dan kelestarian lingkungan.

as a preferred source on Google
0 Komentar