Omah Berita Logo

Cabai Rawit Lumajang Tembus Rp72.500, Cuaca dan El Niño Jadi Pemicu

gambar cabe sc: pinterest
gambar cabe sc: pinterest

Lumajang (Omahberita.com) - Harga cabai rawit merah di Kabupaten Lumajang kembali mengalami kenaikan. Per 3 Oktober 2026, harga komoditas tersebut mencapai Rp72.500 per kilogram, dipengaruhi kondisi produksi yang terkendala cuaca panas, keterbatasan air, hingga dampak El Niño.

Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur yang diperoleh tim Omahberita, harga cabai rawit merah di sejumlah pasar Kabupaten Lumajang masih berada di kisaran Rp65.000 per kilogram pada awal Oktober 2026. Dalam beberapa hari, harga kemudian naik hingga Rp72.500 per kilogram.

Kenaikan harga cabai juga terjadi di sejumlah daerah lain di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Jember. Berdasarkan data harga yang dihimpun, cabai rawit merah di Jember berada pada kisaran Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram. Sementara itu, cabai merah besar berada di kisaran Rp50.000 per kilogram. Untuk cabai merah keriting, harganya masih mengikuti fluktuasi pasar, dengan rata-rata di Jawa Timur berada di sekitar Rp45.000 per kilogram.

Jika dibandingkan, harga cabai rawit merah di Jember saat ini berada di atas harga di Lumajang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga cabai dapat berbeda antarwilayah, tergantung pada ketersediaan pasokan, kondisi produksi, distribusi, hingga permintaan di masing-masing daerah.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lumajang, Hendra Suwandaru, mengatakan kenaikan harga tidak terlepas dari kondisi produksi yang dipengaruhi keterbatasan air, cuaca panas, hingga dampak El Niño.

“Kenaikan ini cukup kuat dan berkaitan dengan keterbatasan ketersediaan air, cuaca panas serta dampak El Niño yang memengaruhi produksi dan produktivitas,” ujar Hendra, Minggu (4/10/2026).

Menurutnya, kenaikan harga tidak selalu menjadi kabar buruk bagi petani. Harga jual yang lebih tinggi dapat menjadi peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan lebih baik setelah menghadapi risiko dan biaya budidaya.

Namun, pemerintah tetap perlu memperhatikan dampaknya terhadap konsumen. Harga yang menguntungkan petani diharapkan tidak berubah menjadi beban berlebihan bagi masyarakat.

0 Komentar

1500 karakter tersisa
Belum ada Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement