Omah Berita Logo

Kisah Jalur Kereta Jember-Panarukan; Hidup, Mati, dan Akan Reaktivasi

Kisah Jalur Kereta Jember-Panarukan;           Hidup, Mati, dan Akan Reaktivasi

Jember(omahberita.com),-Pada mulanya adalah hasil kebun atau komoditas perkebunan kolonial yang melimpah dan harus diangkut ke Belanda. Pada tahun 1893, Staatsspoorwegen (SS) perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda mulai membangun jalur kereta api di wilayah timur Jawa Timur, termasuk di Jember dan sekitarnya. Tujuannya, untuk menjawab kebutuhan transportasi komoditas hasil perkebunan seperti kopi, gula, teh, kakao, tembakau, dan karet ke Pelabuhan Panarukan, sebelum dikapalkan ke Batavia dan Rotterdam-Belanda.

Catatan R Broersma dalam bukunya, Besoeki Een Gewest in op Komst yang terbit di Amsterdam tahun 1912 menyebutkan bahwa saat itu, SS mendatangkan sebanyak 20 unit lokomotif uap C15 dari perusahaan pembuat kereta api Hartmann (Jerman) dan Werkspoor (Belanda). sejumlah jalur (rel) dan stasiun kereta api pun mulai dibangun untuk menghubungkan Jember dan sekitarnya seperti Lumajang, Banyuwangi, Bondowoso dan Situbondo.

Di jalur Jember-Bondowoso-Situbondo, didirikan sedikitnya 17 stasiun yaitu Stasiun Kalisat, Adjoeng (Ajung),Soekasari (Sukosari), Soekowono (Sukowono), Tamanan, Groedjoegan (Grujugan), Nangkaan, Bondowoso, Tangsil, Bonosare (Wonosari),Tapen, Pradjekan, Widuri, Kalibagor, Soemberkolak,Triboengan, dan terakhir Stasiun Panaroekan.

0 Komentar

1500 karakter tersisa
Belum ada Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement