Jakarta(omahberita.com),- Badan Gizi Nasional (BGN) mulai meakukan uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan. Menurut Kepala BGN, Sudaryono, uji coba itu mulai diterapkan selama sepekan terakhir di 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 10 provinsi.
"Kami berharap uji coba MBG dengan sistem prasmanan dapat terus diperluas hingga akhir 2026, dengan target mencapai 5.000 titik,"katanya.
Sudaryono menambahkan, uji coba sistem prasmanan itu dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo, dan studi banding ke negara yang sudah menjalankan sistem itu yaitu Jepang dan Italia.
Hasil evaluasi sementara, kata dia, menunjukkan metode prasmanan mampu menjaga makanan tetap hangat saat disajikan, mengurangi sisa makanan, dibandingkan penyajian yang biasa diterapkan. Metode ini juga memperkuat edukasi gizi melalui keterlibatan guru dan siswa. Siswa pun menunjukkan antusiasme lebih tinggi karena dapat mengambil makanan sesuai mekanisme prasmanan dan menambah porsi apabila masih tersedia.
"Hasil uji coba akan dievaluasi terus secara berkala sebelum diperluas ke daerah lain,"katanya.
Penerapan sistem prasmanan itu akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan dapur, kebutuhan tenaga kerja, edukasi siswa, hingga perbedaan pola makan berdasarkan usia menjadi hal yang perlu diperhitungkan sebelum sistem tersebut diterapkan lebih luas.
Sudaryono mengatakan, pelaksanaan MBG prasmanan tidak bisa dilakukan secara langsung di semua sekolah. Sebab, penerapannya membutuhkan kesiapan dari pihak dapur penyedia makanan maupun sekolah yang menjadi lokasi pelaksanaan.
Menurutnya, sistem prasmanan menimbulkan tambahan pekerjaan bagi dapur dan sekolah. Dapur harus siap melayani siswa yang mengambil makanan secara langsung, termasuk mengantisipasi kebutuhan siswa yang ingin menambah porsi apabila makanan masih tersedia.
"Karena kan prasmanan ini harus dapurnya harus mau. Mau tuh artinya dia memang bisa, karena dia ada nambah ya, ada nambah sedikit kerepotan gitu. Kemudian juga sekolahnya juga mesti mau, karena juga sekolahnya juga ada sedikit kerepotan gitu," ujar Sudaryono.
Selain kesiapan operasional, BGN juga perlu memberikan edukasi kepada siswa agar pelaksanaan makan prasmanan berjalan tertib. Sudaryono menilai siswa tidak bisa langsung diharapkan memahami mekanisme baru tanpa pendampingan.
BGN juga mempertimbangkan perbedaan kebutuhan siswa berdasarkan jenjang kelas. Sudaryono mencontohkan, siswa kelas 1 dan 2 SD memiliki karakteristik dan pola makan yang berbeda dibandingkan siswa kelas 5 dan 6 SD. Perbedaan tersebut menjadi salah satu aspek teknis yang harus diselesaikan sebelum penerapan MBG prasmanan diperluas.
"Prasmanan di SD kelas 1 kelas 2, itu kan beda sama kelas SD kelas 6 sama kelas 5 kan beda. Kelas 1 kelas 2 kan masih kecil-kecil, nah itu beberapa hal yang memang secara teknis harus kita selesaikan," kata Sudaryono.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan, uji coba prasmanan menjadi bagian dari empat prioritas pembenahan MBG yang ditegaskan Menko Pangan. Prioritas lainnya mencakup pemerataan layanan ke wilayah 3T, perbaikan tata kelola SPPG, serta penertiban data penerima manfaat.
"Memasuki dua tahun pemerintahan, arahan Presiden MBG segera diimplementasikan secara merata, terutama di wilayah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi. Kekurangan harus dibenahi, tata kelola ditertibkan, dan penyimpangan kita tindak tegas," ujarnya.(*)

as a preferred source on Google
0 Komentar