JAKARTA, Omahberita.com – Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira menyatakan bahwa desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) perlu dipahami sebagai gambaran kesejahteraan relatif, bukan ukuran tunggal dan baku untuk menentukan apakah seseorang tergolong kaya atau hidup berkecukupan.
Data desil pada dasarnya menggambarkan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya. Dengan demikian, seseorang yang berada di desil 9 atau 10 juga tidak otomatis dapat disebut atau diputuskan sebagai orang mampu dan kaya raya. Menurutnya, orang yang masuk dalam desil tinggi tidak selalu berarti sebuah keluarga memiliki kondisi ekonomi yang serba berkecukupan.
"Posisi desil dalam DTSEN itu menunjukkan tingkat kesejahteraan relatif dibandingkan keluarga lainnya, bukan ukuran langsung tentang banyaknya uang yang tersisa setiap bulan,"katanya, Sabtu (26/09/2026).
Adrian menjelaskan, desil dalam DTSEN ditentukan berdasarkan tingkat kesejahteraan relatif keluarga dengan mempertimbangkan sekitar 39 variabel sosial dan ekonomi. Keluarga kemudian dikelompokkan ke dalam 10 desil. Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
Penentuan tersebut menggunakan metode Proxy Means Test (PMT). Sejumlah karakteristik yang dipertimbangkan antara lain kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, listrik, sumber air, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga komposisi keluarga. "Jadi tidak ada satu variabel, misalnya gaji, daya listrik, atau kepemilikan kendaraan—yang sendirian menentukan seseorang masuk desil tertentu," katanya menegaskan.
Karena itu, posisi desil tidak dapat diterjemahkan secara sederhana berdasarkan jumlah penghasilan seseorang. Gaji Rp5 juta, Rp8 juta, maupun Rp10 juta, misalnya, tidak otomatis menentukan seseorang berada pada desil tertentu. Perbedaan antara posisi kesejahteraan dalam statistik dan kondisi keuangan sehari-hari dapat terjadi. "Seseorang bisa berada dalam kelompok kesejahteraan relatif tinggi, tetapi tetap merasa penghasilannya pas-pasan. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh biaya hidup yang tinggi, jumlah tanggungan keluarga, maupun besarnya kebutuhan rutin yang harus dipenuhi setiap bulan,"katanya.
as a preferred source on Google
0 Komentar