Di Balik Canggihnya AI, Ada Air yang Ikut Terkuras

Ilustrasi air (sc: pinterest)
Ilustrasi air (sc: pinterest)

Jember (Omahberita.com) - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) tidak hanya membutuhkan daya komputasi besar, tetapi juga air dalam jumlah yang tidak sedikit. Dilansir dari Kompas.com, meningkatnya penggunaan AI membuat perusahaan teknologi membangun pusat data berskala besar. Fasilitas tersebut membutuhkan sistem pendingin agar suhu server tetap stabil.

Salah satu sistem pendingin menggunakan menara pendingin dan mekanisme udara yang memanfaatkan air bersih untuk menguapkan panas. Laporan tersebut menyebutkan, setiap 1 kilowatt-hour (kWh) energi yang digunakan untuk proses pendinginan server AI dapat menghabiskan hingga 9 liter air.

Kebutuhan air juga berasal dari konsumsi listrik pusat data. Mayoritas perusahaan teknologi AI berada di Amerika Serikat (AS), sementara pembangkit listrik di negara tersebut masih banyak menggunakan sistem termoelektrik. Sistem pembangkit tersebut membutuhkan air dalam jumlah besar, dengan rata-rata mencapai 43,8 liter air untuk setiap kWh.

Perusahaan Pembuat Masih Berusaha Mengurangi Dampaknya

Sejumlah perusahaan teknologi besar, seperti Microsoft, Google, dan Meta, mengklaim tengah berupaya mengurangi dampak lingkungan dari pembangunan pusat data AI. Ketiganya berkomitmen untuk mengganti atau mengisi kembali pasokan air dengan jumlah yang lebih besar dibandingkan air yang mereka konsumsi.

Target tersebut diharapkan dapat tercapai paling lambat pada 2030. Namun, cara perusahaan merealisasikan komitmen tersebut masih menjadi perhatian, terutama ketika ketersediaan air bersih dunia semakin terbatas. Google bahkan menyebut air bersih sebagai salah satu sumber daya paling berharga di bumi. Perusahaan tersebut menyatakan komitmennya untuk menjaga keamanan air dan kelestarian ekosistem.

Konsumsi Air Untuk Ai diprediksi Akan Terus Naik

Meski berbagai perusahaan teknologi telah menyatakan komitmennya, penggunaan air untuk pengembangan AI tetap menimbulkan kekhawatiran. Pada 2027, konsumsi air dari industri AI diproyeksikan dapat mencapai 6,6 miliar meter kubik. Angka tersebut dinilai berpotensi memperparah persoalan kelangkaan air bersih di berbagai wilayah dunia.

Menurut laporan lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hampir dua pertiga populasi dunia telah mengalami kekurangan air yang parah setidaknya selama satu bulan dalam setahun. Kondisi tersebut diperkirakan semakin berat pada 2030, ketika hampir separuh populasi dunia diprediksi menghadapi kelangkaan air yang parah.

kompas.com

0 Komentar

1500 karakter tersisa
Belum ada Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement